Rabu, 15 April 2009

ARAH DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAm

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan Islam, walaupun mencapai kemajuan dalam bidang sarana, namum kwalitasnya dirasakan belum memenuhi keinginan ummat. Kemerosotan itu disebabkan oleh berbagai faktor, satu diantaranya adalah ketidak fahaman terhadap arah dan tujuan Pendidikan Islam. Sebagian pendidik dan lembaga pendidikan berpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah menyampaikan ilmu pengetahuan. Akibatnya semua usaha pendidikan hanya ditujuan untuk mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Disamping itu terdapat pula anggapan bahwa yang dinamakan Pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (syari’ah), sehingga berkembang angapan bahwa ilmu-ilmu selain ilmu keislaman bukanlah merupakan garapan Pendidikan Islam. Akibatnya arah dan tujuan lembaga Pendidikan Islam terbatas pada pangajaran ilmu-ilmu syari’ah.

Kondisi Obyektif Pendidikan Islam di Indonesia

Praktek pendidikan Islam di Indonesia sebagaimana diidentifikasi di atas mengalami pasang surut dari waktu ke waktu. Namun demikian dalam perkembangan terakhir, kenyataannya menunjukkan kemajuan, setidak-tidaknya jika dilihat dari indicator kuantitatif. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah umum misalnya berlangsung hanya 2 jam pelajaran per pekan. Belakangan banyak keluhan yang muncul berkaitan dengan prilaku remaja sekolah yang kurang terpuji, seperti tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang serta pergaulan bebas.

Tulisan ini mencoba mengemukan arah dan tujuan Pendidikan Islam agar kesalah pahaman tersebut akan dapat diperbaiki, dan Pendidikan akan dapat berkembang sejalan dengan tujuan hakiki Pendidikan Islam yang sesuai dengan kehendak ajaran Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

Masa Depan Pendidikan Islam di Indonesia

Pendidikan Islam di Indonesia secara normative pada dasarnya bersumber dari ajaran agama Islam yang universal. Konsisten dengan prinsip ini, pendidikan Islam akan mampu bertahan dalam perubahan yang terjadi dari masa ke masa.

Masa depan pendidikan Islam di Indonesia ditentukan baik oleh faktor internal maupun oleh faktor eksternal.[1] Secara internal, dunia pendidikan Islam pada dasarnya masih menghadapi problem pokok berupa rendahnya kualitas sumberdaya manusia pengelola pendidikan. Hal ini terkait dengan program pendidikan dan pembinaan tenaga kependidikan yang masih lemah, dan pola rekrutmen tenaga pegawai yang kurang selektif. Secara eksternal, masa depan pendidikan Islam dipengaruhi oleh tiga isu besar : globalisasi, demokratisasi dan liberalisasi Islam.

Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam

Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.

Sebagian para ahli mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan ketulusan .[2] Tujuan ini muncul dari hasil pemahaman terhadap ayat al-Qur’an yang berbunyi :

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B ÇÊÉËÈ

. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(Q.S Ali Imran:102

Iman Al-Maraghi di dalam kitabnya Tafsir al-Maraghi menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut, bahwa yang dimaksud dengan yaa ayyuhalladziina aamanuut taqullaaha haqqatuqaatihi, maksudnya adalah wajib bagi kamu sekalian bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, yaitu dengan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah, dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Selanjutnya yang dimaksud dengan walaa tamuutunna illaa wa antum muslimun adalah dan janganlah kamu sekalian mati kecuali dirimu dalam keadaaln ikhlas semata-mata karena Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan tidak berada dalam keadaan tidak beragama Islam pada saat kematian tersebut menjumpaimu. Intinya ayat tersebut menyerukan agar manusia terus-menerus berada dalam keadaan berserah diri kepada Allah (muslim), menjaga segala perintah yang diwajibkan dan menjauhi segala yang dilarang-Nya hingga mati menjemput[3]

Kecenderungan menjadi orang baik ini selanjutnya menjadi kecenderungan beragama yang merupakan salah satu fitrah manusia. Hadits Rasulullah SAW misalnya mengisyaratkan :

Tiap orang yang dilahirkan membawa fitrah, ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (H.R Bukhari dan Muslim)

Berkenaan dengan kecenderungan kepada berbuat baik tersebut, maka pendidikan Islam memiliki tanggung jawab mengupayakan agar manusia untuk senantiasa mewujudkan kecenderungan baiknya dan menghindari dari mengikuti kecenderungan yang buruk.

Tujuan

Tujuan merupakan fitrah yang telah melekat dalam diri setiap insan. Tidak ada tindakan manusia yang tidak mempunyai tujan. Sesungguhnya perbuatan seorang yang ia lakukan tanpa sadar mempunyai tujuan, walupun ia tidak mengetahui tujuan itu[4].

Seorang yang sedang tidur akan menarik tangannya bila ditusuk dengan jarum. Tujuannya adalah mempertahankan diri, atau berkeinginan untuk hidup.

Biasanya, semua orang yang sadar dan berakal, selalu memikirkan tujuan setiap tindakannya. Bila ia menyadari tujuan tindakannya, akan terdorong untuk melakukan perbuatan itu. Seandainya seorang menempuh sebuah jalan tanpa mengetahui sebab ia harus melewati jalan tersebut, dia tidak akan antusias lewat di jalan itu. Tapi bila ia mengetahui bahwa di ujung jalan itu ada kebun yang indah, pemiliknya ramah dan akan mengajak setiap orang yang lewat di depan kebun itu untuk makan di pinggir kolam yang ada di kebun itu, sedangkan orang yang lewat ini sedang kelaparan, maka pasti orang tersenut akan terdorong dan bersemangat melewati jalan tersebut.

Demikian pula dalam semua bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Seorang mahasiswa akan belajar dengan tekun sepanjang tahun, bila dalam benaknya selalu terbayang apa tujuan yang akan ia capai dengan pendidikan tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga mencapai tujuan yang ia idam-idamkan.

Disamping itu tujuan juga akan mengarahkan proses sebuah kegiatan. Bila tujuan tergambar, seorang akan dapat menentukan langkah, menentukan cara dan menentukan apa yang akan diperbuat ke arah tujuan itu.

Kebutuhan terhadap tujuan

Disamping hal yang kita utarakan di atas, kebutuhan sistim dan lembaga Pendidikan Islam terhadap tujuan disebabkan oleh dua masalah penting lainnya, yaitu:

1. Sistim pendidikan yang berkembang di negara-negara Islam adalah sistem yang diimpor dari model Eropa dan Amerika. Sistim tersebut tidak serasi dengan budaya dan kebiasaan ummat di negara ini. Disamping itu sistem tersebut masuk ke dalam negara Islam sebagai bagian dari kekuasaan kolonialis, yang otomatis tujuannya sesuai dengan tujuan ekonomis kolonial itu, dan sesuai dengan dominasi politik kelompok-kelompok terdidik dan pemerintahan negara penjajah itu. Penjajah melalui sekolah yang mereka siapkan berusaha untuk melatih orang-orang terjajah untuk melakukan peran-peran penjajah. Walaupun penjajahan fisik berakhir, namun sistim pendidikan belum banyak mengalami probahan. Kurikulum, malah bahasa di sebagian negara Islam misalnya, masih sama dengan zaman pemjajahan. Malah hubungan kebudayaan antara negara bekas jajahan dengan ngara penjajah lebih kuat dibadingkan dengan zaman penjajahan[5].

Kekhawatiran kita terhadap budaya Barat bukan berarti kita menutup diri dari semua budaya ini, tapi kita harus mempelajarinya dengan hati-hati dan kritis, dan menganggapnya sebagai salah satu informasi. Untuk mengatasi kesensitipan interaksi budaya itu dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal: (a) siapa yang kita pilih untuk berinteraksi itu; (b) pada umur berapa mereka kita bolehkan berinteraksi; dan (c) di mana tempat interaksi itu dilakukan.

2. Sebab kedua adalah bahwa sistim pendidikan di negara Islam masih merupakan penceplakan terhadap model pendidikan lama yang berkembang di negara-negara Islam. Pendidikan model lama itu belum memahami tujuan Pendidikan Islam dan tidak pula menghayati hubungan tujuan dengan proses pendidikan. Tujuan satu-satunya yang terlihat dalam pendidikan lama ini adalah mentranformasikan budaya orang tua kepada anak-anaknya tanpa melakukan pengembangan dan tanpa memperhatikan kebutuhan masa depan anak tersebut. Hal ini sama dengan apa yang diungkap Allah dalam surat Az-zuhruf ayat 22.

Oleh sebab itu kurikulum yang diberikan kepada anak-anak saat ini sama dengan apa yang diberikan pada masa yang lalu tanpa memperhatikan perbedaan kebutuhan saat ini dan masa yang lalu dan tanpa memperbadingkan probelma yang dihadapi oleh ummat masa kini dengan problema mereka masa lampau. Akibat ketidak pahaman tujuan ini lahirlah keterbelakangan di berbagai lembaga pendidikan Islam, baik dalam bidang kurikulum ataupun dalam bidang metode. Dan yang lebih naif lagi timbulnya dualisme, atau dikhatomi dalam sistim pendidikan kita saat ini.

Arah dan Tujuan Pendidikan Islam

Bila kita ingin berbicara tentang arah dan tujuan Pendidikan Islam, kita harus melihat tujuan hidup manusia di dunia ini. Tujuan itu tertera dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 :

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.)Q.S Ad-Dzariyat:56)

Ibadah yang dimaksudkan di sini bukanlah terbatas pada ritual-ritual Islam, seperti shalat, shiyam dan zakat, tapi lebih luas dari itu. Ibadah dalam pengeritan bahwa seseorang hanya menerima seluruh masalah kehidupannya dari Allah SWT, dalam arti bahwa ia terus menerus dalam hubungan dengan Allah SWT. Shalat, shiyam, zakat tidak lebih dari miftah ibadah/kunci ibadah, atau sebagai halte tempat menambah perbekalan bagi seorang yang sedang mengembara

Sesunggunya seluruh perjalanan, mulai dari bidayah, sampai kepada nihayah adalah ibadah. Ibadah dalam pengertian seperti ini mencakup seluruh kehidupan manusia, tidak terbatas pada waktu pendek yang dipergunakan untuk ritual itu saja. Kalau itu yang dimaksud dengan ibadah oleh ayat 56 surah Azzariyat itu, tentu ayat itu tidak mempunyai makna yang mendalam. Apa artinya waktu yang babarapa menit untuk ritual itu jika dibandingkan dengan kehidupan kita yang panjang itu. Hampir ia tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Ayat ini baru mempunyai makna penting bila ibadah dijadikan manhaj hayah/sistem kehidupan manusia ini, dan bila ibadah itu menjadi cara berbuat, dan cara berfikir insa tersebut. Dalam arti bahwa semua perbuatan manusia harus kembali kepada Allah.

Membentuk hubungan hati manusia dengan Allah SWT, dan mendorong hati manusia untuk kembali kepada Allah pada setiap saat adalah kaedah pokok Pendidikan Islam. Dengan kaedah inilah semua masalah dilaksanakan. Tanpa kaedah ini segala perbuatan di dunia tidak mempunyai arti. Oleh sebab itu, tujuan Pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan lainnya, yaitu membentuk muslim yang beramal shaleh. Dalam arti bahwa manusia yang ingin diciptakan oleh Pendidikan Islam adalah insan yang dalam semua amalnya selalu berhubungan dengan Allah SWT.

Amal Shaleh

Dilihat dari implimentasinya, amal shaleh dapat dibagi kepada amal agama yang shaleh, amal sosial yang sholeh dan amal alami atau kauni yang sholeh. Namun bila dilihat dari pengaruhnya, amal shaleh dapat dikatagorikan kepada dua kelompok:

Pertama. amal yang mendatangkan kemanfaatan dan keredhaan Allah.

Kedua. amal yang bertujuan menghindarkan kemudharatan dan menjauhkan kemarahan Allah.

Individu yang melakukan kedua bentuk amal shaleh itu desebut sebagai shaleh-mushlih. Sedangkan yang hanya melakukan yang pertama saja disebut dengan shaleh. Melakukan salah satunya belumlah memadai, sebab yang pertama diperlukan untuk pengembangan dan kemajuan, sedangkan yang kedua adalah untuk menghalangi sebab-sebab kemufsadatan dan keterbelakangan.

Pendidikan Islam berusaha untuk menciptakan manusia yang shaleh dan mushlih itu, dalam arti berusaha menciptakan insan yang akan berusaha melakukan kedua sisi amal shaleh tersebut. Hal ini disebabkan penegasan Allah dalam surat Al-Anfal ayat 25 yang mengatakan bahwa kehancuran tidak akan menimpa ummat yang anggotanya shaleh dan mushlih, tapi masyarakat yang anggotanya hanya shaleh saja akan dihadapkan kepada kehancuran.

Bagaimana Menciptakan individu yang beramal shaleh?

Pertanyaan yang muncul bagaimana cara Pendidikan Islam menciptakan individu yang beramal shaleh ? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memberikan defenisi amal dan bagaimana menciptakan amal itu.

Amal dalam Pendidikan Islam adalah semua gerak yang diiringi dengan niyat. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itu mempunyai niat.” Setiap gerakan tanpa niat (tujuan) tidak dinamakan amal. Bila dikhususkan kepada manusia, maka setiap gerak yang bertujuan mendatangkan kemanfaatan atau menghindarkan kemudharatan (keburukan) dinamakan oleh Al-Quran sebagai amal. Sedangkan gerak tanpa tujuan disebut Al-Quran sebagai jiryan (peredaran), seperti peredaran matahari dan bumi.

Dengan demikian, amal adalah gerak dan tujuan, atau dalam ungkapan lain kudrah dan iradah (kemampuan dan keinginan). Bila ada kemampuan dan ada pula keinginan maka akan tercipta amal.

Qudrah dapat berarti tenaga (thaqah) yang terdapat pada manusia dan hewan. Ia dapat pula berarti kemampuan untuk menundukkan alam. Ini hanya dipunyai oleh manusia. Kudrah dalam pengertian inilah yang akan diarahkan oleh Pendidikan Islam. Kemampuan untuk menundukkan ini adalah perkawinan antara kemampulan akal dengan pengalaman dan keahlian manusia dalam bidang agama, sosial dan kauni.

Sedangkan Iradah adalah keinginan individu terhadap tujuan-tujuan tertentu. Iradah ini juga suatu hal yang membedakan manusia dengan hewan.

Selanjutnya tujuan pendidikan Islam memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Mengarahkan manusia agar selalu mentauhidkan Allah SWT, yang tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah. Allah SWt berfirman :

* 4n<Î)ur yŠqßJrO öNèd%s{r& $[sÎ=»|¹ 4 tA$s% ÉQöqs)»tƒ (#rßç6ôã$# ©!$# $tB /ä3s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ¼çnçŽöxî ( uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiB ÇÚöF{$# óOä.tyJ÷ètGó$#ur $pkŽÏù çnrãÏÿøótFó$$sù ¢OèO (#þqç/qè? Ïmøs9Î) 4 ¨bÎ) În1u Ò=ƒÌs% Ò=ÅgC ÇÏÊÈ

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."(Q.S Hud:61)

2. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Allah di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengelola bumi sesuai dengan kehendak Allah. Allah SWt berfirman :

øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(Q.S Albaqarah:30)

3. Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S Adz-dzariyat:56)

4. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya. Allah SWt berfirman :

y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(Q.Al-Qalam:4)

5. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan untuk mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya.

6. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[6] Allah Swt berfirman :

Oßg÷YÏBur `¨B ãAqà)tƒ !$oY­/u $oYÏ?#uä Îû $u÷R9$# ZpuZ|¡ym Îûur ÍotÅzFy$# ZpuZ|¡ym $oYÏ%ur z>#xtã Í$¨Z9$# ÇËÉÊÈ

Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"(Q.S Al-Baqarah:201)

Tujuan tersebut di atas kemudian oleh para ahli dijadikan sebagai tujuan umum pendidikan Islam. Namun, sungguhpun sifatnya umum ia tetap penting dan menjadi arah pendidikan Islam. Tujuan umum ini nampak agak sulit dilaksanakan jika tidak dirinci lebih jauh lagi. Adapun tujuan khusus pendidikan Islam adalah sebagai berikut :

1. Tujuan yang berkaitan dengan individu yang mencakup perubahan berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani serta kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.

2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat yang mencakup tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat.

3. Tujuan professional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni, profesi dan kegiatan masyarakat.

Adanya rincian tujuan umum dan khusus itu pada tahap selanjutnya akan membantu merancang bidang-bidang pembinaan yang harus dilakukan dalam kegiatan pendidikan, seperti adanya bidang pembinaan yang berkaitan dengan aspek jasmani, aspek akidah, aspek akhlak, aspek kejiwaaan, aspek keindahan dan aspek kebudayaan. Masing-masing bidang pembinaan ini pada tahap selanjutnya disertai dengan bidang-bidang studi atau mata pelajaran yang berkaitannya.

Dengan demikian struktur tujuan pendidikan Islam itu terdiri dari:

1. Tujuan umum yang dikenal pula dengan tujuan akhir

2. Tujuan khusus, sebagai penjabaran dari tujuan umum.

3. Tujuan perbidang pembinaan, misalnya tujuan dari pembinaan aspek akal.

4. Tujuan setiap bidang studi sesuai dengan bidang-bidang pembinaan tersebut.

5. Tujuan setiap pokok bahasan yang terdapat dalam setiap bidang studi

6. Tujuan setiap sub pokok bahasan yang terdapat dalam setiap pokok bahasan.

Uraian mengenai tujuan pendidikan Islam tersebut memperlihatkan dengan jelas keterlibatan fungsional mengenai gambaran ideal dari manusia yang ingin dibentuk oleh kegiatan pendidikan. Selain itu, uraian tersebut dapat membantu tugas para pemikir pendidikan Islam ketika mereka akan melaksanakan kegiatan pendidikan. Maka sebelum merumuskan bidang kegiatan lainnya, terlebih dahulu ia harus merumuskan dengan jelas mengenai sosok manusia yang ingin dihasilkan melalui kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian di atas kita dapat mengatakan bahwa Pandidikan Islam adalah pendidikan yang syumul, yang mencakup semua segi pendidikan, baik kognitif, afektif dan psikhomotorik. Dengan demikian tujuan pendidikan juga akan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Bila individu muslim berhasil dididik menjadi manusia-manusia shaleh dan muslih, maka keluarga muslim akan tercipta dengan sendirinya, dan selanjutnya keluarga tersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan masyarakat muslim yang baik.

Adapun struktur tujuan pendidikan Islam itu terdiri dari:

1. Tujuan umum yang dikenal pula dengan tujuan akhir

2. Tujuan khusus, sebagai penjabaran dari tujuan umum.

3. Tujuan perbidang pembinaan, misalnya tujuan dari pembinaan aspek akal.

4. Tujuan setiap bidang studi sesuai dengan bidang-bidang pembinaan tersebut.

5. Tujuan setiap pokok bahasan yang terdapat dalam setiap bidang studi

6. Tujuan setiap sub pokok bahasan yang terdapat dalam setiap pokok bahasan

DAFTAR PUSTAKA

Rahim, Husni , Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta, Logos : 2001

Nata, Abuddin, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qr’an Jakarta, UIN Jakarta Press : 2005

____________, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Logos: 2001

Musthafa, Ahmad al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi al-Mujallid atsani Beirut, Dar al Fikr:tt

Rahman, Abdur Al-Qalawi, Ushul Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, Darul Fikril Arabi: t.t

Arsan, Majid Al-kailani, Ahdaf At-Tarbiyah Al-islamihah, Madinah, Maktabah Darut-Turast: 1988

MAKALAH

ARAH DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individual

Mata Kuliah :

TAFSIR HADITS PENDIDIKAN

Dosen Pengasuh :

Prof.DR.KH.Didin Hafiduddin,MSc.

DR.H.Ibdalsyah, MA.

Disusun Oleh :

Dede Jajat

KONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS IBNU KHALDUN BOGOR

2009



[1] Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta::Logos,2001) h.13

[2] Abuddin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qr’an (Jakarta: UIN Jakarta Press,2005) h.166

[3] Ahmad Musthafa al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi al-Mujallid atsani ( Beirut:Dar al Fikr,tt) h.16

[4] Abdur Rahman Al-Qalawi, Ushul Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo, Darul Fikril Arabi,t.t), hal. 96

[5] Majid Arsan Al-kailani, Ahdaf At-Tarbiyah Al-islamihah, (Madinah, Maktabah Darut-Turast, 1988), h35.

[6] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Logos,2001) h.53

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar